Tuesday, 11 March 2014
These are my cats now
My Tabi has lost. He ran away from the house and never return back. It passed almost a year, I guess, I don't really remember exactly when he left.
Anyhow, we have moved on from Tabi. Now some cats come to our home, want some meal or just lay at terrace. But we don't adopt them. We (usually, my brother) feed them everyday.
The cats get named and usually we name it by its physical thing.
1. Mibi, my brother gave him name it because he looks a like Tabi and Mibi is acronym, MIrip taBI.
2. Mimibi, same like Mibi and it's MIrip-MIrip taBI.
3. Tarempu, before Tarempu came, his sibling had come first and they are like a twins. The sibling was black and white, so I like to call her Tempu (iTEM PUtih). But Tempu never visits us again, and one day her sibling came to my house and I gave him name Tarempu. Idk, what it means. I just added sundanese adnoun.
4. Ndut, he's so much like Garfield. Chubby body, robust legs, orange fur, unfriendly face, and always nags. But we adore him because he's so cute!
5. Wewet, the last one. He rarely visits us nowadays. We call him Wewet because he's so talkactive. Meow-ing before feed him and after it. Wewet is used to be a someone's pet, I guess. But days by days, he's got thinner and thinner and thinner. I ever cried for him because it's so upset to see him thinner and no one cares him.
6. Anyata, he's Tabi's son. We are so sure about it. His fur, face, tail, colour, habit and voice resemble to Tabi. Anyata is AnakNYA TAbi.
Oh well, these are my cats now. One died, one thousand grows, and I believe it.
There there, I have a joke conversation with my bro today. It's so true he claimed himself.
Me: "Bang, rempeyek are out?"
Bro: "Oh well, Tarempu ate it."
Me: "No way, he hasn't been here today."
Bro: "Oooh, maybe, Ndut did"
Me: a while thinking and the brust into laugh... and I was so sure that Ndut did.
Sunday, 7 April 2013
Terus Melangkah
Menurut gue kehidupan itu mirip filosofi saat kita berada di jalan yang lagi nyetir motor. Jalanan ga selalu mulus, ada yang gradakan, ada yang bolong-bolong banyak lubang, ada yang berpasir, dan ada yang licin. Seperti kehidupan, hidup ga selamanya enak, terkadang kita harus menghadapi kenyataan kalo kita melewati masa-masa sulit.
Sesungguhnya masa sulit itu tidak akan terlalu terasa ketika kita jalani dengan pelan-pelan, menikmati prosesnya, mempelajari hikmahnya. Tapi kalo kita tergesa-gesa, mungkin kita agak sedikit kaget dengan apa yang terjadi.
Begitupun saat kita melewati lubang-lubang di jalan. Goyangan kencang akan begitu terasa saat berkendara cukup cepat. Sontak kita akan kaget dengan lubang yang baru terlewati.
Tapi kalo kita melewatinya dengan kecepatan 20 km/jam, goyangan di motor akan sedikit teredam dan kita tidak terlalu kaget.
Selain itu, saat kita berkendara tepat dibelakang mobil besar, kita harus waspada. Sekali lagi, jalanan tak selamanya mulus, jadi ketika ada lubang, jatuhlah kita ke lubang tersebut.
Lain halnya ketika kita mengambil jarak setidaknya 10 meter dari mobil, seenggaknya kita akan melihat dan dapat menghindari lubang tersebut.
Kalo ini dicerminkan pada kehidupan adalah, kita jangan berada dibalik orang besar, karena ga selamanya orang besar bisa melindungi kita. Yang bisa ngelindungi diri kita adalah diri kita sendiri.
Hehe, gue rasa cukup sekian filosofi nya.
Sunday, 10 February 2013
Excuse Me, Could I Excuse The Excuseness?
Ga usah aneh-aneh, kita ambil contoh perihal cewek ngerokok di tempat umum. Dulu aja, cewek ketauan ngerokok bisa dianggap negatif oleh yang lain. Kalo sekarang, udah biasa-biasa aja kan, ga ada yang protes, ga ada bisik-bisik ke sebelah ngomong 'duh, yaampun tuh cewe ngerokok', rata-rata orang sekitar udah biasa ngeliat ini, baik itu di fastfood place, resto, kampus, atau halte.
Siapa yang salah kalo ternyata kehidupan sosial kian 'aneh'? Lagi-lagi jawaban yang paling diplomatis adalah: ga ada yang salah.
Terbentuknya keberagaman ini pasti didorong dengan rasa ingin tau, ingin coba, ingin bisa, ingin ini-itu. Iseng, mungkin awalnya. Lama-lama yang tidak biasa menjadi biasa dan ini merupakan suatu ke-excuse-an yang sering terjadi.
Misal, gue punya temen si A dan B. Mereka berbeda gender dengan status teman tapi dekat dan sering membahas tentang kehidupan, mulai dari pertemanan, sosial-masyarakat, animo yang happening, penyimpangan perilaku, hingga yang berbau dewasa. Tidak jarang mereka bercanda kalo mereka pernah begini dan begitu (intinya, deeper relationship with each other, exactly physically).
Awalnya gue dan temen-temen menanggapi dengan tidak serius sambil ketawa-ketiwi, kita berpikir ga mungkin mereka melakukan seperti itu. Tapi lama-kelamaan sepertinya yang diceritakan itu sesuatu yang fakta.
Memang ga pernah dapet buktinya, tapi gue dan teman yang lain bisa merasakan. Terus apa reaksi kita selanjutnya? Salah satu temen gue ada yang khawatir dengan hubungan mereka.
Suatu malam, si cowo akan nginep di rumah cewe yang lagi kosong. Temen gue memohon ke gue buat ngawasin mereka yang mana gue harus nginep juga di sana. Gue dengan santainya bilang ga bisa karena emang ga boleh sama orang rumah. Gue cuma ngasih statement ke temen gue: mereka udah gede, udah ngerti yang baik dan yang buruk, jadi yaudah biarin aja mau mereka apa.
Setelah itu gue ga ada rasa cemas, semuanya santai. Dan di sini gue baru sadar kalo ternyata gue udah punya gejala ke-excuse-an dengan berpikir mereka udah dewasa. Ke-bodoamat-an juga bisa memperburuk kehidupan sosial.
Seperti temen gue itu, gue ga terlalu masalah udah sejauh apa hubungan mereka, padahal kalo gue mau sedikit lebih care ke mereka, mungkin masih bisa mencegah apa yang harus dicegah. Setidak-tidaknya ga akan menular ke kitanya karena belakangan ini gue baru tau kalo akhlak yang buruk itu sesungguhnya menular melalui pertemanan.
Saturday, 24 November 2012
Either she or he does cheating, surely..
Pacaran terus selingkuh? Biasa
Naudzubillahhiminzalik. Astagfirullohaladzim.
Sunday, 26 August 2012
KRS Online IPB
![]() |
| Penampakan KRS Online |
- - Ekonomi Lingkungan (ENAK BANGET)
- - Valuasi Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (Enak, sih)
- - Gender dan Keluarga (ENAAAAAK)
- - Manajemen Keluarga dan Konsumen (E to the NAK)
Tuesday, 24 January 2012
Ganja Legal dan (mungkin) Shabu pun Ikut Legal
Sekarang ini marak sekali pemberitaan tentang Kecelakaan Maut yang sejauh ini menewaskan 9 orang di sekitar Tugu Tani, Jakarta. Pasti banyak pembaca yang sudah paham kronologi kecelakaan tersebut. Mobil Xenia hitam yang melaju kencang dari arah Gambir, seketika (entah kenapa) berjalan ke trotoar dan *BAM* menabrak 13 pejalan kaki di trotoar tersebut.
Sungguh ironi sekali melihat video amatir tentang kejadian yang direkam oleh saksi di sana. IMO, sang pengemudi pun terlihat tampak biasa saja dengan apa yang baru saja terjadi, mukanya datar seperti tidak bersalah. Tidak ada penyesalan, tidak ada muka turut prihatin, tidak ada rasa kesedihan. Saya curiganya, dia tidak punya hati. Padahal dia wanita looooh.
Belakangan setelah selidik punya selidik, ternyata pengemudi terpengaruh shabu-shabu bekas semalam di pesta ulang tahun temannya. CMIIW.
Shabu-shabu, apa yang Anda pikirkan setelah mendengar kata ini?
NARKOBA, kan?
Ini dampak pecandu shabu-shabu
- Sakauw Shabu-shabu :
Gelisah, tidak bisa berpikir, tidak bisa bekerja.Tidak bisa tenang, cepat capai, mudah marah, tidak bisa beraktivitas dengan baik, tidak ada semangat, Depresi berat, Rasa lelah berlebihan, Gangguan tidur, Mimpi bertambah
- Habis pakai shabu-shabu:
Mata bendul ada garis hitam, Badan terasa panas terbakar, sehingga minum terus menerus, dan ke-mana2 selalu membawa botol aqua. Kuat tidak makan dan tidak tidur sampai ber-hari2, ngomong terus tapi suaranya jelas.Bersemangat, gariah seks meningkat, paranoid, tidak bisa diam/tenang, selalu ingin menambah terus, tidak bisa makan, tidak bisa tidur. Pernah dicoba betapa ganasnya kristal ini, ambil daging mentah dan taruh kristal ini diatasnya dan kristal ini bisa menembus masuk kedalam daging ini, bayangkan kristal seperti ini dimasukkan kedalam tubuh.
- Akibat :
Merusak organ2 tubuh terutama otak dan syaraf yang mengatur pernafasan. Paranoid, otak suah dipakai berpikir dan konsentrasi, jet lag dan tidak mau makan. Rasa gembira/euforia, rasa harga diri meningkat, banyak bicara, kewaspadaan meningkat, denyut jantung cepat, pupil mata melebar, tekanan darah meningkat, berkeringat/rasa dingin, mual/muntah. Gangguan irama detak jantung, perdarahan otak, hiperpireksia atau syok pada pembuluh darah jantung yang berakibat meninggal.
See it? Bahaya sekali bukan?
Saya teringat berita beberapa minggu yang lalu, Panji Pragiwaksono -seorang MC, Rapper, dan comedian- yang ingin melegalkan Ganja. Ya, dia dan perkumpulannya ingin melegalkan ganja di Indonesia.
Rokok legal, bir legal, kenapa ganja ga legal sekalian?
Mereka berpendapat, ganja bukanlah barang narkotika. Ganja lain sifatnya, tidak membuat ketagihan intinya. Tapi kalau dilihat dari covernya pun, ganja memang tidak baik bila masuk ke dalam tubuh.
Efek dari merokok ganja dideskripsikan sbg berikut:“euforia,brkurangnya rasa lelah,dan pelepasan ketegangan,jg dpt meningkatkan nafsu makan,mendistorsi perspektif wkt,meningkatkan kepercayaan diri, dan,seperti alkohol, dapat melemaskan beberapa hambatan.”(Fort,1965) (kutipan dari kaskus.us)
Tapi haruskah ganja dilegalkan? Saya masih berpendapat bahwa ganja bisa berdampak buruk. Setelah selesai menghisap ganja, pasti pemakai akan menjadi setengah sadar alias mabuk. Seperti kutipan di atas, ganja seperti alkohol dan jelas alkohol berdampak buruk bagi kesehatan.
Sepertinya saya termasuk orang yang kontra dengan pelegalan ganja. Kenapa harus melegalkan yang haram? Untuk membantu pertumbuhan ekonomi? Kita bukan negara Belanda. Sepertinya masih banyak cara lain yang bisa dilalui tanpa perlu melakukan perdagangan ganja, termasuk rokok dan minuman beralkohol.
Seharusnya, paradigma mereka yang harus diubah:
Kenapa tidak, Indonesia mengILEGALkan ganja, serta rokok dan minuman beralkohol?
Konklusi yang baik adalah mengarah kebaikan dan mencegah keburukan. Indonesia harus lebih baik dalam mengambil keputusan, semoga para pemimpin masih cukup sadar dan rasional.
Monday, 11 July 2011
Balada Jerawat: masa (telat) puber
semakin anda sering melihat muka anda dengan kaca, maka anda akan semakin merasa bahwa jerawat anda banyak
- Jangan sepelein hal kecil, even SATU JERAWAT.
- Jangan beli produk yang belum dapat dipercaya.
- Walaupun ada bukti nyata, jangan langsung percaya karena siapa tahu produk tersebut ga cocok dengan kita.
- Jangan pernah ngetawain atau ngehina atau ngebecandain temen kamu yang lagi buruk, misalnya lagi jerawatan segede kacang polong, jangan pernah deh, walaupun dalem hati juga. (Karma guee >.<)
Monday, 7 March 2011
Ga dapet SIM C, SIM B2 bolehlah yaa :p
Alhamdulillah, Allah banyak banget ngasih rezeki ke keluarga gue. Allah emang sayang banget ama gue dan sekeluarga. Thanks so many God. :*
Di bulan ini, insyaallah gue akan menempati rumah baru gue n abang. Rumah kecil, minimalis, 3 kamar, 2 kamar mandi, cukup banget buat nampung gue dan abang di Bogor. Rumah baru ini berlokasi di Pagelaran dan kayanya di semester 5 nanti, gue akan pulang-pergi ke kampus. Dan gue akan dibeliin motor matic biar perjalanan ke kampus lebih lancar dan hemat. Hehehe.
Tapi, masalahnya gue belum punya SIM C. Kalo soal nyetir motor sih udah lumayan jago (ceileh). Hehehe. Kemarin pas lagi liburan di Lampung, gue sempet nyoba mau bikin SIM C di kantor polisi. Ditemani my brother kita satroni tuh kantor pulisi. Nyampe sana harus tes kesehatan dan mengikuti step-step selanjutnya. Pas step ketiga (dimana gue harus tes tertulis) gue sedikit nervous karena gue sama sekali ga ngerti rambu-rambu lalu lintas dan sebagainya. Si pak polisi ngasih penjelasan singkat tentang ini-itu yang bakalan dites. Tapi, karena guenya emang ga tertarik dengan topik diskusinya, jadi ga gue peduliin arahan pak polisi.
Saatnya gue tes tertulis. Di situ ada 30 soal dan kalo mau lulus harus minimal salah 9. Gue ngerjain sok yakin abis. Silang sana sini. Jujur, sekarang gue udah lupa soal-soal yang dites kemaren. Sama sekali ga inget. Dengan percaya diri gue ngumpulin dan jawaban gue diperiksa ama pak polisi. DAN TAUKAH KAWAN-KAWAN APA YANG TERJADI SELANJUTNYA?
Gue salah 10! Sial abis. Padahal kalo salah 9 gue bisa lolos ke tahap selanjutnya. Huh.
Akhirnya kita pulang dengan ketawa-ketiwi. Geli sendiri gara-gara gue gagal.
Pulang dari sana, gue ngerengek ke ibu biar buat SIM C nya nembak aja. Ga usah pake birokrasi yang berbelit-belit gitu (menurut gue loh yaaa). Susah juga ya dapetin SIM C. Semoga bulan ini bisa terealisasikan deh yaaa. Wish me luck, pals :)
Monday, 10 January 2011
Put your records on
I don't really know what my life has been going on recently. I think God want me to be tougher because I'm really susceptible on temptation.
Two men, absolutely different way and habit. They were getting closer to me about these weeks. We've texted, we've phoned, but I feel just, "Hei!!! This is not me, really not me. Not as usual as I am."
First guy is so silly and coltish, the second seemed like a mature man (immature, I have known him 'now' now). Actually, I have let my heart layed on to the first guy. But, our relationship is just kinda abnormal. I know, he has a gf, but he said that he hearts me. Idk, he told the truth or bullshit, and I agreed to make a deeper our relationship by texting and phoning. I was enjoying with him because he was entertaining and caring.
Then the second guy entered my life throughly. He is a top, leader, smart (mean, I have known him 'now' now), and until we watched a movie, he tried to reach and hold my hand. It was &%&$%#%#. I really don't like this guy who acted like a pervert. YES, I think, HE IS A PERVERT! At that time, I wanna curse my self because I felt that I was like a tramp, I was scared. Poor me, I couldn't save mine. But, I am relieved now, THANKS GODNESS, it was just my hand.
Now, I realize that I shouldn't have any relationship during I study. It's just bothering me, make me sick.
Ok, I think it's enough now. I really really thank to my God, Allah, for saving me. God, please don't let me go from your embrace. I hope they both get better life and better relation without me.
Thanks for reading, bye now.
