Pages

Showing posts with label Pertanyaan. Show all posts
Showing posts with label Pertanyaan. Show all posts

Saturday, 2 July 2011

satu per(nya)ta(nya)an

holiday kali ini banyak gue habisin nonton korea-jepang-amerika movies. Sambil nunggu munculnya nilai krs yang datengnya satu per satu. Dan yang bikin -OH NO!- nya ada satu mata kuliah yang bikin jebol pertahanan gue selama ini. Ya, MSDM -manajemen sumberdaya mamalia, oops, manusia- dapet C! Pyuuuh, ya udah lah ya, mau gimana lagi. Jadinya PIP ada yang nemenin deh tuh.

Anyway, entah kenapa liburan ini gue sering banget dikasih wejangan dari sang ibu tentang nilai-nilai kehidupan terutama tentang jodoh dan pernikahan. Waktu itu gue lagi bantuin nyokap masak di dapur. Dia cerita tentang perceraian sodara gue (cewek) yang belum selesai urusannya. Udah gitu sodara yang lain lagi (masih cewek juga), ternyata suaminya nikah lagi sama cewek lain dan udah punya anak 2 bulan. Wow, gue ga nyangka suaminya sodara gue itu bisa begitu jahatnya ama istrinya. Ada juga sodara gue (cewek juga) pacaran sama anak orang kaya, tapi pacarnya itu agak cacat, setengah badannya agak lumpuh, dan sodara gue diomongin ama orang lain kalo dia pacaran cuma gara-gara mau hartanya aja. Hah, dasar orang-orang cuma bisa bisa ngomongin orang aja. Pas lagi diceritain gitu, dalem hati gue selalu aja ada luapan perasaan, "oooh gue ga mau merasakan hal yang sama", it really would be sooooooo painful.

Karena merasa harus waspada terhadap calon suami si anak, ibu ngasih wejangan kurang lebih begini,
"nanti kalo Icah mau nikah, harus solat istikharoh dulu. Minta petunjuk ke Allah, kalo dia itu beneran jodoh kamu atau bukan. Dia juga harus berasal dari keluarga baik-baik, soleh, dan bapak-ibunya juga harus ngerti agama. Liat juga, sikap dia terhadap ibu dan saudara perempuannya gimana, sayang atau tidak, karena kalau dia galak sama ibu atau saudara perempuannya, pasti dia juga akan galak ke istrinya. Kalo yang kaya gitu harus kamu jauhi. Cari suami yang benar-benar sayang sama kamu. Ibu selalu berdoa agar abang (kakak gue) dan Icah dapet jodoh yang solehah dan soleh."
Gue ga berani ngeliat muka ibu, gue terus nunduk dan ngangguk. Dalem hati selalu berkata, "Ya Allah, berilah kemudahan dan kabulkanlah doa ibuku"

Di saat itu juga gue kepikiran 1 orang, yang jelas-jelas bukan pacar gue (dan emang gue ga punya pacar :p)

Well, gue sempet berpikir, daripada gue nikah mendingan gue hidup merawan, maksudnya melajang. Gue ga akan banyak nemuin masalah kehidupan, karena kalo kata orang, kehidupan yang sesungguhnya itu dimulai sejak pernikahan.
Kalo analoginya nyokap tuh, kehidupan itu seperti naik kapal laut.
Ceritanya gini:
kita sedang berada di laut, tiba-tiba nahkoda mengumumkan kalo kapal akan menepi di pulau. Sang nahkoda bilang, "kalian boleh turun dari kapal dan berjalan-jalan di pulau, tapi ingat, kita punya batas waktu, jadi ketika ada peluit berbunyi segeralah ke kapal. Yang telat akan saya tinggal." Lalu anak buah kapal pun senang menemukan daratan. Pulau itu sangaaaat indah dan banyak cindera mata yang dapat diambil. Karena dia selalu ingat kata-kata nahkoda, ABK 1 tidak berani pergi jauh-jauh dari kapal sehingga dia cuma dapet sedikit manfaat dari pulau itu. Lain lagi dengan ABK 2, dia berjalan agak jauh tapi tetap waspada dengan batas waktunya. Dia juga menemukan cindera mata yang cukup untuk dibawa ke kapal. Beda lagi dengan ABK 3, dia terlalu maruk dan mengambil semua cindera mata yang ada di pulau, tapi ketika peluit berbunyi dia keberatan membawanya, mau ga mau, cindera mata itu dilepas begitu saja dan berlari menuju kapal. Dan yang paling fatal adalah ABK 4. Dia terlalu terpesona dengan keindahan pulau sehingga dia pergi terlalu jauh dari kapal dan tidak mendengar peluit berbunyi. Saat dia tersadar bahwa dia harus kembali ke kapal, ternyata dia sudah ditinggal oleh kapal itu.

Cerita di atas bisa dianalogikan seperti kehidupan di dunia. Tidak usah kamu bertanya, "kalau kamu ABK yang mana?" biarkan setiap diri ini mempunyai jawaban sendiri dan orang lain tidak perlu tau.
Satu pertanyaan gue hari ini: kalau ga nikah, dosa ga ya?

Wednesday, 12 November 2008

Adakah alasan yang tepat?

Beberapa minggu yang lalu gue dapet e-mail dari orang yang ga gue kenal. Dia ngebahas topik yang sebenernya ga pernah gue pikirkan.

Mungkin kalo orang nanya ke Anda yang punya pacar/suami/istri, kenapa kamu memilih pasanganmu itu?
Banyak alasan yang dapat kamu berikan. Contohnya aja, karena dia tampan, atau kaya, atau keren atau apalah, many reasons can be expressed. Ya kan?

Tapi. . .

Pernahkah ada seseorang yang menanyakan tentang:
Mengapa kamu memilih agamamu itu?

Tentunya anak kecil ga usah ditanya, mereka belum ngerti apa apa. Tapi bagi kamu yang sudah dewasa, tentunya punya pendapat, pikiran dan alasan dong. Selama ini kita terlalu sibuk sampe sampe pertanyaan yang sebenernya sepele gini terlupakan.

Kalo jawabannya itu:
karena nyokap gue agamanya itu, bokap gue juga itu, yaudah gue ikut orang tua aja, agamanya jadi itu juga.
That's a shit reason.

Ayo dong, jawabannya lebih berbobot dikit dan lebih meyakinkan bahwa agama yang lo anut itu adalah agama yang paling sesuai.

Awalnya gue sendiri agak nyadar, kenapa ya gue milih agama gue? Tapi setelah lama berpikir, ternyata gue belum nemuin jawabannya. Haha.

Tapi nanti pasti kita nemuin sendiri apa jawabannya, bergantung apa yang ada pada kita aja.

Dan kita harus yakin sama agama kita, bahwa agama kita adalah agama yang paling benar.


Thus, what are ur reasons then? ^.~

Friday, 10 October 2008

pengemis yang kaya

kemarin saya nonton berita di TV. tapi saya lupa apa nama acara program tersebut.

waktu itu topik yang dibahas adalah pengemis yang berasal dari kota Brebes. profesi asli mereka adalah petani. mereka akan datang ke kota Jakarta menjadi pengemis dengan alasan saat itu di ladang mereka sedang kering, musim pancaroba, gagal panen, dll.

setelah diselidiki, mereka dikoordinir oleh seorang yang mengajari mereka mengemis, membuat borok, dan mendanai transport mereka. alasannya sama seperti para petani itu.

si reporternya pun makin penasaran dengan latar belakang para pengemis alias petani itu. reporternya mengambil gambar rumah yang bagus dan bersih, dan ternyata itu adalah rumah salah satu dari pengemis itu. gimana ga bagus coba? lha wong rata rata penghasilannya aja 150.000 rupiah/hari. yang disetor ke ketuanya paling cuma berapa puluh ribu. jelas mereka kayalah.


gue jadi berpikir, mungkin ga sih ini jadi pertanda kiamat???
gue pernah denger kalo ciri-ciri kiamat itu adalah
Para petani mempunyai rumah yang besar dan bagus, tapi mereka berjalan tanpa alas kaki dan menggunakan pakaian compang-camping.
Nah loh... jadi lo semua bisa mikir dong gimana itu. hehe

takut

ketakutan itu tak akan bisa hilang walau kamu berada di tempat yang aman, disinari banyak lampu, ditemani banyak kawan, dan diselimuti pelukan hangat.
kamu tidak akan mampu membuang rasa takut, karena takut itu sendiri berada dan tumbuh dari dasar hati kamu.

saya sering merasa takut akan suatu hal, dan memang tidak bisa dipungkiri lagi, itu pasti akan terjadi. tapi saya berharap dan memohon agar semuanya diberikan jalan yang terbaik bagi semuanya.

padahal kehidupan saya biasa-biasa aja. ga special, ga menarik, dan statis. but we always have a big problem!

anak kecil aja punya masalah, punya rasa takut, punya rasa menyesal, punya rasa bersedih, dan yang terpenting punya rasa keinginan.
saat ini yang saya punya cuma masalah, takut, dan sedih. then where do regret and curiosity hide?

maybe, my way has changed aim. should i go back to my previous way? or should i go on with this new one?
idk which is the best for me.

i wish God gave me what it's good for me and other.

Saturday, 23 August 2008

CUMA-HANYA

Saya berkata:

a. Gue hanya mau tau aja kok.
b. Gue cuma mau tau aja kok.

PERTANYAAN!
Emang apa c perbedaan CUMA dan HANYA?


Adakah yang di sana tau?